Seems Twitter has made me turning off from my Blog.
deltaadeltoo?
An extraordinary story
Kamis, 11 November 2010
Sabtu, 02 Oktober 2010
Melankolis
Selasa, 20 Juli 2010
Euforia Selepas SMA
AKUNTANSI REGULER YA TUHAN, TERIMAKASIH BANYAK! :)
-May 8th, 2010. 7.13am, http://twitter.com/deltaadeltoo
Udah tiga bulan dari update status tadi.
Gila emang, masih nggak nyangka gue. Bisa bisanya gue diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia ini. Di jurusan yang bener-bener gue pengenin dari dulu, akuntansi. Padahal motivasi gue buat masuk situ karena cuman itu ekonomi yang cuman menambah dan mengurangi.
Gue bersyukur banget bisa masuk ke universitas itu, menjadi salah satu yang beruntung dari sekian banyak orang yang mendaftar untuk bisa mengenyam pendidikan disana. Dan saat itu pun gue berjanji sama diri gue sendiri: Gue nggak boleh sombong atas keberhasilan ini.
Dasar manusia yang jarang berhasil, tetep aja gue sombong. Dari make baju: "Saya Sudah Kuliah, Loh!" made by Joger-Bali, terus dengan sumringahnya pasang stiker di motor sendiri, bahkan sampe nunjukin KTM ke mbak-mbak McDonalds Pangkalan Jati biar dapet diskon.
Hal tersebut terus berlangsung. Gue berdalih selalu, bahwa kesombongan gue adalah sebuah euforia. Euforia yang sangat memabukkan. Tiga bulan penuh euforia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa gue adalah mahasiswa baru. Entah mengapa, gue merasakan kepuasan batin kalo udah begitu. Padahal itu udah jelas salah, dan ngelanggar janji gue ke diri gue sendiri.
Sekarang masa liburan udah hampir berakhir. Dalam kurang dari dua minggu. Euforia itu tentu masih ada. Sumringah kalo ditanya orang tentang mau melanjutkan kuliah kemana. Tapi tingkat euforia itu sudah semakin menurun, dan gue udah mulai berpikir tentang masa-masa gue selama dilanda euforia berkepanjangan.
Gue mulai berpikir, apa gunanya bersombong akan diri yang baru bisa naik selangkah dalam tangga kesuksesan. Masuk ke universitas tersebut, belom tentu bisa keluar dari universitas tersebut, bukan?
Gue mulai berpikir, mungkin nggak gue cuman beruntung pas bisa masuk ke universitas tersebut? Toh yang lebih pinter daripada gue disitu seabreg-abreg. Bisa dilihat, di dunia maya aja udah kelihatan.
Bah. Gue telat buat bisa berpikir seperti itu. Gue telat untuk bisa berpikir secara dewasa, yang pasti dibutuhkan sekali di universitas. Bah.
Memang dasar euforia suka menutup mata akan kenyataan yang ada. Semoga aja gue ga akan terbutakan oleh euforia lagi.
Kamis, 15 Juli 2010
Pranasa Aranta (copied)
Alkisah disuatu hari, bertemulah dua orang teman lama yang sudah lama tidak bertatap muka. Salah seorang dari mereka mengenakan kemeja putih polos dan juga celana bahan hitam. Pranasa Aranta (PA) namanya. Dan salah seorang lagi mengenakan Polo-Shirt dan juga celana jeans. Ia adalah Delta Antariksa (DA)
DA: Halo anak STAN. Sudah lama sekali dari pertemuan kita yang terakhir.
PA: Halo juga anak SMA. Memang sudah lama. Saya sampai kangen.
DA: Bah, saya sudah bukan anak SMA. Kau hanya lebih cepat satu tahun dari saya berkat akselerasi.
PA: Benarkah? Anda sudah lulus dari SMA 81 tercinta itu kalau begitu?
DA: Benar sekali
PA: Bagaimana dengan UN anda? Apakah anda menyontek dari kunci?
DA: Tidak. Saya tidak mau tertipu dengan kunci. Apalagi kalau mengingat kejadian yang anda lakukan kepada J****.
Pikiran mereka pun menerawang kepada kejadian setahun yang lalu saat Pranasa Aranta sedang mengerjakan UN Biologi. Entah ia sedang iseng atau memang sedang terpasang tanduk di kepalanya, ia membuat kunci jawaban UN palsu yang ia kirimkan kepada J****, salah seorang senior kami di 81. Saya tidak sampai hati kalau kunci itu sampai tersebar dan digunakan. Bisa-bisa nama 81 terpampang di koran, karena angka ketidak lulusannya.
Percakapan antara dua insan manusia tersebut pun berlanjut.
PA: Saya masih tertawa terkencing-kencing kalau ingat hal itu. Sudahlah. Mari kita bicarakan tentang yang lain. Bila anda sudah lulus SMA, engkau akan segera menjadi mahasiswa dong.
DA: Betul sekali. Saya sedang menunggu tanggal 1 Agustus agar bisa menyandang kata mahasiswa itu sepantasnya.
PA: Diterima dimanakah kau memangnya?
DA: Akuntansi Universitas Indonesia.
PA: Bah, tempat buanganku itu dulu?
DA: Setidaknya saya memasukinya dengan sekali tes dan tanpa pengusiran dari Bu Nurul. Apalagi sampai ditimpuk oleh piring cantik oleh orang tua saya
PA: Brengsek
Begitulah Delta Antariksa. Sepertinya ia sudah bisa membalas perkataan temannya tersebut saat ia masih SMA. Sudah mulai bisa berbicara meledek dia sepertinya.
PA: Kalau begitu, engkau sudah bisa sombong dong.
DA: Tadi aja saya sudah sombong kepada dirimu.
PA: Kalau begitu bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu?
DA: Silahkan.
PA: Mengapa kau tidak mengikuti jejak saya untuk ke STAN? Ketahuilah. Gajinya besar.
DA: Saya tahu. Langsung kerja pula. Di Departemen Keuangan pula.
PA: Lantas, mengapa engkau tidak tertarik dengannya?
DA: Ketahuilah kawan, mungkin saat ini saya masih idealis. Saya saat ini masih ingin bersih segala galanya. Tapi seiring berjalannya waktu, dalamnya manusia tidak ada yang tahu.
PA: Di STAN akan diberikan pendalaman budi pekerti dan agama yang sangat kuat. Itu tentu saja akan memperkokoh idealisme anda.
DA: Saya tidak percaya. Sebuah batu yang dialiri air terus menerus akan terkikis pula pada akhirnya. Saya tidak mau ikut terkikis dan pada akhirnya menyalahgunakan uang rakyat yang sudah digunakan untuk mendidik saya. Lebih baik saya cari jalan aman, dengan memberantas dari luar. Kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi didalam keuangan negara, secara independen tak berpihak. Dengan itu, idealisme saya pun tetap ada pada diri saya karena saya tak terkait dengan instansi manapun
PA: Insya Allah saya dan teman teman saya di STAN tidak akan terkikis idealismenya.
DA: Saya doakan. Semoga engkau dan teman teman anda akan menjadi perwira di garis depan dalam memberantas kecurangan yang terjadi di dalam keuangan negara. Saya masih tidak kuat iman untuk bisa ikut bergerak dari dalam. Saya bisa membantu anda dari luar, sebagai audit publik yang independen terhadap transaksi keuangan negara misalnya. Tugas anda adalah memastikan tiadanya transaksi negara yang mencurigakan dengan cara menyebarkan idealisme anda itu dari dalam.
PA: Bah, sok berat sekali omongan anda belakangan ini. Tapi saya setuju.
DA: Tentu saja. Senior saya Soe Hok Gie. Sudah sepantasnya anda setuju.
Dasar mahasiswa. Mereka membicarakan masalah idealisme di balik pemilihan perguruan tinggi. Semoga saja harapan mereka berdua dapat terpenuhi untuk Indonesia tercinta.
PA: Kau tahu, percakapan ini hampir sama dengan percakapan kita saat tanggal 21 Oktober 2009.
DA: Benar sekali. Tapi tentu saja berbeda.
PA: Apakah yang berbeda?
DA: Percakapan kita kali ini menegaskan pilihan saya. Lagipula itu pas hari ulang tahun saya.
PA: Sayang sekali kita tidak melakukan percakapan ini di hari ulang tahun saya.
DA: Ulang tahun anda? Memangnya kapan anda berulang tahun?
PA: 17 April. Tidak kah anda ingat? Saya saja ingat ulang tahun anda. Anda berulang tahun di tanggal 21 Oktober kan?
DA: Maaf, saya tidak ingat tanggal lahir anda. Mengapa anda begitu mengingat hari ulang tahun saya? Pasti karena saya sangat ngangeni kan?
PA: Brengsek
Percakapan antara dua teman lama itu pun berakhir. Karena Pranasa Aranta harus kembali ke Bintaro, sedangkan Delta Antariksa pun harus bersiap siap menghadapi orientasinya.
Tunggu, kenapa postingan ini sangat mirip terhadap postingan Pranasa Aranta di blognya?
(Dipersembahkan untuk: Muhammad Pranasa Aranta Syaiful Dinar. Mahasiswa Perpajakan STAN yang sudah membuang Akuntansi UI dan memberikan motivasi terhadap saya untuk bisa memperoleh tempat buangannya tersebut)
disadur dari http://padangpintar.blogspot.com/2009/10/delta-antariksa.html. Terima kasih banyak kepada Pranasa Aranta yang sudah membuat postingan itu. Nih saya balikin. hahaha
Holy-Day
Liburan.
Udah tiga bulan gue ga ngapa-ngapain. Selain makan, tidur, online, dan pergi.
Saya rindu rutinitas itu eh.
Kesekolah menuntut ilmu
Tidur-tiduran di podium
Bercengkrama bersama bu kesi -_-
Berjam-jam di Ganesha Operation
Pulang malem terus
Halah.
Pasti gue bakal menyesal di kemudian hari:
Gue bosen liburan
Rabu, 14 Juli 2010
Doa Ibu
Ceritanya dimulai dari kepulangan kami dari Cipanas, setelah berlibur dari villa Raden Mas Randy Baskoro.
Biasalah, orang Jakarta sukanya liburan ke Puncak. Padahal kita tahu hal itu, dan tetep aja nekat buat pulang di hari minggu yang notabene pasti bakalan macet gara-gara ga ada makanan layak makan. Biasa. 5 orang bujangan yang ga bisa masak, disuruh tinggal bersama tanpa ada tukang masak, hasilnya itu pasti kelaparan massal.
Kita nyampe di Pasar Cipanas jam 3 sore, makan sebentar, dan akhirnya naik bus seperti gambar dibawah. Yak, dengan rute Banjar-Jakarta, dan dengan nama Doa Ibu. Persis seperti gambar dibawah.
Masih belum ada yang tahu kalo bus ini akan menjadi mimpi buruk umat manusiaDasar Indonesia. Padahal sebenernya busnya penuh, tapi sama keneknya disuruh tetep masuk. Berdirilah kita.
Kondisi di dalam bus pun sangat tidak berperi-kemanusiaan-yang-tidak-merokok. Semua orang merokok disana. bahkan ada orang yang dengan enaknya ngrokok disebelah anak kecil. Kasian. Abis perjalanan itu dia bakalan suka ngerokok kali. Tapi pikiran negatifpun dihilangkan, dengan pikiran, kami akan tiba di jakarta nanti malam.
Perjalanan pun dimulai. Lepas dari pasar Cipanas, jalanan lenggang. Di pikiran kami berlima pun sudah bermunculan pikiran: ah nyampe Jakarta cepet ini mah.
Dan pikiran itu pun langsung kandas 5 menit kemudian.
Hening tercipta.
limabelas menit
tigapuluh menit
empatpuluh menit
"Kok kaga jalan jalan?"
"Sabar, Del. Biasa ini. Buka Tutup"
Dan kembali hening.
satu jam empatpuluh menit
dua jam tigapuluh menit
dan pada akhirnya, jam setengah tujuh kita masih didepan kampung brasco.
Kesel, akhirnya gue dan kawan kawan turun dari bis. Jalan ke arah Jakarta, duduk, terus nungguin busnya dateng. Pas busnya dateng, baru naik lagi. Atau malah jalan lagi. Bahkan sempet buat beli roti bakar dulu.
Jam duabelas malam, kami dan bus pun masih di Puncak Pass Resort. 9 Jam perjalanan dari Cipanas hanya untuk sampai di Puncak Pass Resort. Nice.
Perundingan pun dimulai. Beberapa orang di dalam rombongan sudah tidak kuat didalam bus laknat yang penuh asap rokok tersebut. Dan kita mulai mencari tempat alternatif untuk tidur. Dan pilihan pun jatuh kepada sate PSK.
Sedikit foto 5 orang mahasiswa yang mencari tempat berteduh di tukang sate
Foto-foto tersebut diambil dalam kondisi mengenaskan. Terutama yang paling atas.
Setelah tidur sekitar tiga jam di sate PSK, kami pun kembali berusaha pulang ke Jakarta menggunakan angkot.
Tiba di jakarta pun jam 9 pagi. 18 jam perjalanan saja ditambah tidur sebentar di sate PSK.
Trivia
1. Penyebab dari segala macam penyebab kemacetan laknat di Puncak adalah: Taman Wisata Matahari! Keterangan ini didapatkan dari pak Polisi yang bertugas di dekat kampung Brasco. Hal ini disebabkan karena taman tersebut tidak memiliki parkir yang memadai bagi bus pariwisata yang berkunjung disana, dan memaksa bus parkir di Bahu Jalan.
2. Didepan Puncak Pass Resort, ada warung remang remang! Salah seorang dari kami bertanya berapa banyak yang harus dikeluarkan untuk dapat "menyewanya", dan dijawab dengan harga yang fantastis: 100rb!
3. Tidak disarankan membeli roti bakar di warung sebelum restoran rindu alam. Dengan roti satu tangkap dan juga kurang hangat, harga yang diberikan tidak masuk akal. 8000 rupiah. Bahkan aqua gelas saja harganya 2000 rupiah! Hanya saja, pemandangannya sungguh menakjubkan.
4. Sate PSK --> Recommended! Bumbunya maknyus, dan boleh nginep disana! Pemandangannya juga oke, hahaha
Emperor
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
