Rabu, 14 Juli 2010

Doa Ibu

Ceritanya dimulai dari kepulangan kami dari Cipanas, setelah berlibur dari villa Raden Mas Randy Baskoro.

Biasalah, orang Jakarta sukanya liburan ke Puncak. Padahal kita tahu hal itu, dan tetep aja nekat buat pulang di hari minggu yang notabene pasti bakalan macet gara-gara ga ada makanan layak makan. Biasa. 5 orang bujangan yang ga bisa masak, disuruh tinggal bersama tanpa ada tukang masak, hasilnya itu pasti kelaparan massal.

Kita nyampe di Pasar Cipanas jam 3 sore, makan sebentar, dan akhirnya naik bus seperti gambar dibawah. Yak, dengan rute Banjar-Jakarta, dan dengan nama Doa Ibu. Persis seperti gambar dibawah.

Masih belum ada yang tahu kalo bus ini akan menjadi mimpi buruk umat manusia

Dasar Indonesia. Padahal sebenernya busnya penuh, tapi sama keneknya disuruh tetep masuk. Berdirilah kita.

Kondisi di dalam bus pun sangat tidak berperi-kemanusiaan-yang-tidak-merokok. Semua orang merokok disana. bahkan ada orang yang dengan enaknya ngrokok disebelah anak kecil. Kasian. Abis perjalanan itu dia bakalan suka ngerokok kali. Tapi pikiran negatifpun dihilangkan, dengan pikiran, kami akan tiba di jakarta nanti malam.

Perjalanan pun dimulai. Lepas dari pasar Cipanas, jalanan lenggang. Di pikiran kami berlima pun sudah bermunculan pikiran: ah nyampe Jakarta cepet ini mah.

Dan pikiran itu pun langsung kandas 5 menit kemudian.

Hening tercipta.

limabelas menit
tigapuluh menit
empatpuluh menit

"Kok kaga jalan jalan?"
"Sabar, Del. Biasa ini. Buka Tutup"

Dan kembali hening.

satu jam empatpuluh menit
dua jam tigapuluh menit
dan pada akhirnya, jam setengah tujuh kita masih didepan kampung brasco.

Kesel, akhirnya gue dan kawan kawan turun dari bis. Jalan ke arah Jakarta, duduk, terus nungguin busnya dateng. Pas busnya dateng, baru naik lagi. Atau malah jalan lagi. Bahkan sempet buat beli roti bakar dulu.

Jam duabelas malam, kami dan bus pun masih di Puncak Pass Resort. 9 Jam perjalanan dari Cipanas hanya untuk sampai di Puncak Pass Resort. Nice.

Perundingan pun dimulai. Beberapa orang di dalam rombongan sudah tidak kuat didalam bus laknat yang penuh asap rokok tersebut. Dan kita mulai mencari tempat alternatif untuk tidur. Dan pilihan pun jatuh kepada sate PSK.

Sedikit foto 5 orang mahasiswa yang mencari tempat berteduh di tukang sate




Foto-foto tersebut diambil dalam kondisi mengenaskan. Terutama yang paling atas.

Setelah tidur sekitar tiga jam di sate PSK, kami pun kembali berusaha pulang ke Jakarta menggunakan angkot.

Tiba di jakarta pun jam 9 pagi. 18 jam perjalanan saja ditambah tidur sebentar di sate PSK.

Trivia
1. Penyebab dari segala macam penyebab kemacetan laknat di Puncak adalah: Taman Wisata Matahari! Keterangan ini didapatkan dari pak Polisi yang bertugas di dekat kampung Brasco. Hal ini disebabkan karena taman tersebut tidak memiliki parkir yang memadai bagi bus pariwisata yang berkunjung disana, dan memaksa bus parkir di Bahu Jalan.

2. Didepan Puncak Pass Resort, ada warung remang remang! Salah seorang dari kami bertanya berapa banyak yang harus dikeluarkan untuk dapat "menyewanya", dan dijawab dengan harga yang fantastis: 100rb!

3. Tidak disarankan membeli roti bakar di warung sebelum restoran rindu alam. Dengan roti satu tangkap dan juga kurang hangat, harga yang diberikan tidak masuk akal. 8000 rupiah. Bahkan aqua gelas saja harganya 2000 rupiah! Hanya saja, pemandangannya sungguh menakjubkan.

4. Sate PSK --> Recommended! Bumbunya maknyus, dan boleh nginep disana! Pemandangannya juga oke, hahaha

2 komentar:

  1. entah gw antara miris, kasian, ketawa ngakak juga, hahahaha, tapi ya... it was surely a very unforgetable experience! ;D

    BalasHapus
  2. dan menutup lembaran kisah sma dengan indah :p

    BalasHapus