Kamis, 15 Juli 2010

Pranasa Aranta (copied)

Alkisah disuatu hari, bertemulah dua orang teman lama yang sudah lama tidak bertatap muka. Salah seorang dari mereka mengenakan kemeja putih polos dan juga celana bahan hitam. Pranasa Aranta (PA) namanya. Dan salah seorang lagi mengenakan Polo-Shirt dan juga celana jeans. Ia adalah Delta Antariksa (DA)

DA: Halo anak STAN. Sudah lama sekali dari pertemuan kita yang terakhir.
PA: Halo juga anak SMA. Memang sudah lama. Saya sampai kangen.
DA: Bah, saya sudah bukan anak SMA. Kau hanya lebih cepat satu tahun dari saya berkat akselerasi.
PA: Benarkah? Anda sudah lulus dari SMA 81 tercinta itu kalau begitu?
DA: Benar sekali
PA: Bagaimana dengan UN anda? Apakah anda menyontek dari kunci?
DA: Tidak. Saya tidak mau tertipu dengan kunci. Apalagi kalau mengingat kejadian yang anda lakukan kepada J****.

Pikiran mereka pun menerawang kepada kejadian setahun yang lalu saat Pranasa Aranta sedang mengerjakan UN Biologi. Entah ia sedang iseng atau memang sedang terpasang tanduk di kepalanya, ia membuat kunci jawaban UN palsu yang ia kirimkan kepada J****, salah seorang senior kami di 81. Saya tidak sampai hati kalau kunci itu sampai tersebar dan digunakan. Bisa-bisa nama 81 terpampang di koran, karena angka ketidak lulusannya.

Percakapan antara dua insan manusia tersebut pun berlanjut.

PA: Saya masih tertawa terkencing-kencing kalau ingat hal itu. Sudahlah. Mari kita bicarakan tentang yang lain. Bila anda sudah lulus SMA, engkau akan segera menjadi mahasiswa dong.
DA: Betul sekali. Saya sedang menunggu tanggal 1 Agustus agar bisa menyandang kata mahasiswa itu sepantasnya.
PA: Diterima dimanakah kau memangnya?
DA: Akuntansi Universitas Indonesia.
PA: Bah, tempat buanganku itu dulu?
DA: Setidaknya saya memasukinya dengan sekali tes dan tanpa pengusiran dari Bu Nurul. Apalagi sampai ditimpuk oleh piring cantik oleh orang tua saya
PA: Brengsek

Begitulah Delta Antariksa. Sepertinya ia sudah bisa membalas perkataan temannya tersebut saat ia masih SMA. Sudah mulai bisa berbicara meledek dia sepertinya.

PA: Kalau begitu, engkau sudah bisa sombong dong.
DA: Tadi aja saya sudah sombong kepada dirimu.
PA: Kalau begitu bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu?
DA: Silahkan.
PA: Mengapa kau tidak mengikuti jejak saya untuk ke STAN? Ketahuilah. Gajinya besar.
DA: Saya tahu. Langsung kerja pula. Di Departemen Keuangan pula.
PA: Lantas, mengapa engkau tidak tertarik dengannya?
DA: Ketahuilah kawan, mungkin saat ini saya masih idealis. Saya saat ini masih ingin bersih segala galanya. Tapi seiring berjalannya waktu, dalamnya manusia tidak ada yang tahu.
PA: Di STAN akan diberikan pendalaman budi pekerti dan agama yang sangat kuat. Itu tentu saja akan memperkokoh idealisme anda.
DA: Saya tidak percaya. Sebuah batu yang dialiri air terus menerus akan terkikis pula pada akhirnya. Saya tidak mau ikut terkikis dan pada akhirnya menyalahgunakan uang rakyat yang sudah digunakan untuk mendidik saya. Lebih baik saya cari jalan aman, dengan memberantas dari luar. Kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi didalam keuangan negara, secara independen tak berpihak. Dengan itu, idealisme saya pun tetap ada pada diri saya karena saya tak terkait dengan instansi manapun
PA: Insya Allah saya dan teman teman saya di STAN tidak akan terkikis idealismenya.
DA: Saya doakan. Semoga engkau dan teman teman anda akan menjadi perwira di garis depan dalam memberantas kecurangan yang terjadi di dalam keuangan negara. Saya masih tidak kuat iman untuk bisa ikut bergerak dari dalam. Saya bisa membantu anda dari luar, sebagai audit publik yang independen terhadap transaksi keuangan negara misalnya. Tugas anda adalah memastikan tiadanya transaksi negara yang mencurigakan dengan cara menyebarkan idealisme anda itu dari dalam.
PA: Bah, sok berat sekali omongan anda belakangan ini. Tapi saya setuju.
DA: Tentu saja. Senior saya Soe Hok Gie. Sudah sepantasnya anda setuju.

Dasar mahasiswa. Mereka membicarakan masalah idealisme di balik pemilihan perguruan tinggi. Semoga saja harapan mereka berdua dapat terpenuhi untuk Indonesia tercinta.

PA: Kau tahu, percakapan ini hampir sama dengan percakapan kita saat tanggal 21 Oktober 2009.
DA: Benar sekali. Tapi tentu saja berbeda.
PA: Apakah yang berbeda?
DA: Percakapan kita kali ini menegaskan pilihan saya. Lagipula itu pas hari ulang tahun saya.
PA: Sayang sekali kita tidak melakukan percakapan ini di hari ulang tahun saya.
DA: Ulang tahun anda? Memangnya kapan anda berulang tahun?
PA: 17 April. Tidak kah anda ingat? Saya saja ingat ulang tahun anda. Anda berulang tahun di tanggal 21 Oktober kan?
DA: Maaf, saya tidak ingat tanggal lahir anda. Mengapa anda begitu mengingat hari ulang tahun saya? Pasti karena saya sangat ngangeni kan?
PA: Brengsek

Percakapan antara dua teman lama itu pun berakhir. Karena Pranasa Aranta harus kembali ke Bintaro, sedangkan Delta Antariksa pun harus bersiap siap menghadapi orientasinya.

Tunggu, kenapa postingan ini sangat mirip terhadap postingan Pranasa Aranta di blognya?

(Dipersembahkan untuk: Muhammad Pranasa Aranta Syaiful Dinar. Mahasiswa Perpajakan STAN yang sudah membuang Akuntansi UI dan memberikan motivasi terhadap saya untuk bisa memperoleh tempat buangannya tersebut)

disadur dari http://padangpintar.blogspot.com/2009/10/delta-antariksa.html. Terima kasih banyak kepada Pranasa Aranta yang sudah membuat postingan itu. Nih saya balikin. hahaha

4 komentar:

  1. ternyata anakfreakyangbacotnyaparah itu banyak. tapi salut deh sama dua anakfreakyangbacotnyaparah ini. haha
    betewe, temenlo sadis bener ngasih kunci jawaban ngaco del? huahaha bagus tu buat nipu koruptor. :D

    BalasHapus
  2. anakfreakyangbacotnyaparah itu memangnya siapa? haha. beneran ghe, baca aja blognya :p

    BalasHapus
  3. ih kok kalian imut sih HAHAHA

    BalasHapus
  4. omongan masalah idealisme waktu jadi anak muda emang tidak ada habisnya XD dinikmati saja masa2 penuh idealisme karena semakin anda menjadi tua semakin hilang idealisme anda...

    BalasHapus